Topeng Panji Malang : Tradisi Yang Dipilih Untuk Dilanjutkan

Opini Oleh : Adiyanto
Pamong Budaya Disbudpar Jatim

Malam itu, Taman Krida di Kota Malang dipenuhi ribuan orang. Bukan untuk konser musik populer atau hiburan viral, melainkan untuk menyaksikan seni tradisi: Topeng Panji Malang. Pemandangan semacam ini penting dicatat, sebab di tengah derasnya arus budaya instan, tidak banyak seni tradisi yang masih mampu mengumpulkan publik dalam jumlah besar dan perhatian serius.

Namun, justru dari keramaian itulah pertanyaan mendasar muncul: apakah tradisi benar-benar sedang dilanjutkan, atau hanya dipertontonkan sesaat?
Di era ketika kebijakan kebudayaan kerap diukur dari jumlah acara dan kepadatan penonton, keberlangsungan seni tradisi sesungguhnya ditentukan oleh sesuatu yang lebih sunyi dan mendasar: pilihan sadar untuk merawat, memberi ruang hidup, dan mempercayai tradisi sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar ornamen masa lalu.

Pengalaman Topeng Panji Malang sepanjang 2025 memberi pelajaran penting. Seni tradisi ini tidak sekadar hadir sebagai warisan budaya, tetapi tampil sebagai peristiwa publik yang hidup dan diperbincangkan. Namun, euforia semacam ini sekaligus menuntut kehati-hatian. Tradisi yang hidup tidak cukup dirayakan, ia harus dijaga agar tidak berhenti pada momentum.


Warisan yang Tidak Otomatis Lestari

Topeng Panji Malang merupakan bagian dari tradisi Panji yang mengandung nilai kesetiaan, etika, kepemimpinan, dan laku kebajikan. Ia bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan medium pewarisan cara pandang hidup yang telah lama mengakar dalam kebudayaan Jawa. Melalui gerak, musik, dan simbol topeng, nilai-nilai tersebut diterjemahkan dan diwariskan lintas generasi.

Namun, warisan semacam ini tidak pernah lestari secara otomatis. Tanpa ruang tampil yang konsisten, tanpa regenerasi pelaku, dan tanpa keberpihakan kebijakan, seni tradisi mudah berubah menjadi artefak: dipelajari dalam wacana, tetapi jarang dialami dalam kehidupan sosial. Banyak tradisi dirawat secara simbolik, tetapi tidak dipercaya untuk tumbuh secara organik. Negara: Perawat Tradisi atau Penyelenggara Peristiwa?


Pendampingan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur terhadap Topeng Panji Malang sepanjang 2025 patut dicatat sebagai langkah penting. Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi mulai diarahkan pada penguatan ekosistem: seniman, ruang pentas, serta relasinya dengan publik, termasuk generasi muda.


Pementasan di Taman Krida yang menyedot ribuan penonton menunjukkan bahwa seni tradisi dapat tampil komunikatif tanpa kehilangan akar nilai. Namun, keberhasilan ini juga mengandung risiko: ketika negara terlalu nyaman berperan sebagai produser peristiwa, tradisi berpotensi berhenti sebagai agenda tahunan yang bergantung pada anggaran dan kalender kegiatan.


Dalam kerangka kebijakan kebudayaan, negara tidak seharusnya menjadi pemilik tradisi, apalagi sekadar penyelenggara acara. Peran yang lebih mendasar adalah menjaga ruang hidup agar ekosistem seni dapat tumbuh secara mandiri.

Kerja Kolektif yang Tak Selalu Tampak
Topeng Panji Malang tetap hidup karena kerja kolektif para pelaku seni sutradara, koreografer, komposer, hingga komunitas pendukung yang merawatnya dari dalam. Nama-nama seperti Abing Santosa, Dimas Respati, Joko Susilo, Suwandi Widianto, Joko Porong, dan banyak pelaku lainnya menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi lahir dari relasi panjang, bukan dari figur tunggal atau klaim institusional.
Kerja semacam ini sering kali tidak terlihat, tidak selalu tercatat dalam laporan kegiatan, dan jarang dirayakan. Namun justru di sanalah denyut keberlanjutan tradisi bekerja.


Dari Logika Program ke Keberlanjutan Ekosistem
Keputusan untuk melanjutkan pendampingan Topeng Panji Malang pada 2026 menandai pergeseran penting: dari logika program menuju keberlanjutan. Seni tradisi tidak cukup dikelola melalui kalender kegiatan tahunan. Ia membutuhkan waktu panjang untuk regenerasi pelaku, konsistensi ruang tampil, serta pematangan ekosistem sosial dan ekonomi yang menopangnya.


Dalam sebuah rapat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Ibu Evy Afianasari, menyampaikan bahwa salah satu prioritas Gubernur Jawa Timur ke depan adalah penguatan kreatif finance. Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan arah kebijakan, tetapi juga mencerminkan harapan agar seni tradisi memiliki fondasi keberlanjutan yang lebih kuat dan tidak terus bergantung pada momentum acara semata.


Kreatif finance dipandang sebagai peluang untuk membuka jalan kemandirian bagi pelaku seni tradisi, sekaligus sebagai bentuk kehadiran negara yang lebih substantif. Dalam pandangan tersebut, pemerintah tidak dilepaskan dari tanggung jawabnya, justru diharapkan tetap hadir, memberi dukungan, dan mendampingi proses agar seni tradisi dapat tumbuh secara sehat, berdaya, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budayanya.


Namun, pendekatan ini tetap menuntut kehati-hatian. Seni tradisi tidak dapat sepenuhnya diperlakukan seperti produk industri kreatif yang semata diukur dari nilai jual. Karena itu, kreatif finance bagi seni tradisi perlu diposisikan sebagai instrumen pendukung keberlanjutan, bukan alat penyeragaman. Negara berperan membuka akses, membangun literasi, serta merancang skema pembiayaan yang adil sambil terus mendampingi agar tradisi bergerak ke arah yang lebih baik tanpa kehilangan jati dirinya.


Antara Keramaian dan Ketahanan Budaya
Tantangan terbesar pengelolaan seni tradisi hari ini adalah kecenderungan memaknainya sebagai peristiwa, bukan sebagai proses kebudayaan jangka panjang. Keramaian penonton memang penting, tetapi bukan tujuan akhir. Tanpa regenerasi, tanpa ruang tumbuh berkelanjutan, dan tanpa kebijakan yang berpihak pada ekosistem, tradisi akan kembali sunyi begitu panggung dibongkar. Keberlanjutan menuntut kesabaran dan konsistensi dua hal yang sering kalah oleh tuntutan seremonial dan pencitraan.


Tradisi yang Dipilih untuk Dilanjutkan
Kata dipilih menjadi kunci. Tidak semua tradisi bertahan hanya dengan romantisme masa lalu atau euforia sesaat. Keberlanjutan adalah hasil dari pilihan kebijakan, pilihan publik, dan pilihan untuk menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari masa depan.


Topeng Panji Malang memberi pelajaran penting: tradisi dapat relevan tanpa kehilangan jati diri, asalkan ia tidak direduksi menjadi tontonan musiman atau komoditas semata. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah tradisi bisa hidup, melainkan apakah kita sungguh-sungguh memilih untuk merawatnya bahkan ketika sorotan media telah berpindah dan panggung telah sepi.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *